Friday, September 11, 2015

PTT...Pentingkah?

Program PTT merupakan salah program pemerintah agar seorang dokter mau pergi ke daerah pedalaman dan tidak menumpuk di kota. Tentu saja biar dokter tersebut mau melakukan hal itu, banyak  bonus yang diberikan oleh pemerintah, salah satunya adalah gaji yang besar dan nilai plus saat seorang dokter ingin sekolah lagi menjadi spesialis.



Di Indonesia, program PTT tersebut ada 3 macam, yaitu PTT nasional, daerah, dan khusus. Untuk PTT nasional, biasanya diadakan 3x dalam setahun. Untuk mendapatkan infonya, anda bisa mengakses situs ropeg.kemkes.go.id. Untuk yang daerah, bisa anda tanyakan langsung ke dinkes kabupaten/provinsi yang bersangkutan. Sedangkan untuk yang khusus, biasanya infonya agak susah dicari, oleh karena itu saya tidak begitu tahu caranya.

Biasanya dokter yang baru lulus terbagi menjadi 3 golongan. Golongan pertama adalah golongan yang ingin langsung melanjutkan sekolah lagi. Biasanya golongan ini oleh dokter yang punya keluarga/kerabat dekat seorang dokter juga. Contoh dokter yang mempunyai ayah seorang dokter spesialis atau profesor. Mereka berani langsung melanjutkan sekolah karena selain memiliki dana yang banyak, juga didukung oleh faktor kolusi dan nepotisme yang kuat di sekolah dokter.
Golongan kedua adalah golongan dokter yang langsung ingin jadi dokter rumah sakit daerah atau buka praktik sendiri. Biasanya dokter golongan ini merupakan dokter IPK di atas rata-rata atau malah sebaliknya, IPK di bawah rata-rata dan kebanyakan dari mereka ini adalah golongan menengah ke atas. Untuk yang golongan IPK di atas rata-rata, alasan mereka langsung masuk rumah sakit karena mereka ingin segera mengaplikasikan ilmu dan juga ingin menambah pengalaman, Biasanya mereka akan masuk sekolah spesialis, saat mereka sudah mulai bosan atau saat ada tuntutan ekonomi yang lebih besar.
Golongan ketiga adalah golongan yang ingin segera ikut ptt. Golongan ini biasanya di dominasi oleh golongan menengah ke bawah dan tidak punya keluarga dokter (contohnya saya). Mereka melakukan PTT dengan harapan bisa mengumpulkan uang untuk sekolah lagi dan mendapatkan surat rekomendasi dari pemda setempat.

Untuk lokasi PTT sendiri biasanya terbagi menjadi 3. Biasa, terpencil, dan sangat terpencil. Lokasi ini menentukan lama waktu PTT dan gaji yang didapat.

Akan tetapi, seperti halnya program pemerintah  yang lain, PTT ini banyak kekurangannya. Mulai dari gaji yang sering telat serta tipuan janji-janji manis palsu dari pemda setempat.

Sehingga, penting atau tidaknya PTT ini, tergantung amal pribadi masing-masing.

Perjalanan Seorang Dokter


Banyak orang tua yang berpikir, setelah anaknya selesai melaksanakan koass, anak tersebut sudah menjadi dokter. Padahal hal tersebut tidak benar. Saat seorang dokter lulus (sudah selesai pendidikan dan profesi/koass serta ujian kompetensi), maka hal yang selanjutnya akan dilakukan adalah mendaftar internship.

Program internship ini sendiri berlaku hanya untuk para dokter yang menempuh sistem pendidikan KBK. Sebenarnya program ini bagus, karena menambah ilmu dan pengalaman bagi para dokter yang baru lulus. Akan tetapi sepertinya pemerintah kurang mempersiapkan program tersebut, sehingga apa yang terjadi sekarang adalah penumpukan kuota dokter yang ingin melaksanakan internship.


n

Para dokter yang baru lulus tersebut harus menunggu antrian untuk melaksanakan internship karena rumah sakit yang tersedia kurang. Hal ini menyusahkan para dokter tersebut karena mereka akhirnya tidak bisa praktek alias nganggur. Karena STR(surat tanda registrasi, berguna untuk membikin SIP atau surat ijin praktik) mereka tidak akan turun sebelum mereka melaksanakan internship.
Padahal yang kita tahu bersama, kalau orang tua mereka sudah sangat berharap agar anaknya bisa praktek. Tetapi yang ada malah sekarang nganggur di rumah, terkatung-katung tidak jelas, menunggu antrian yang lamanya bervariasi, antara 6 bulan sampai 1 tahun.Dan anggaplah mereka berhasil melewati fase tersebut dan berhasil melaksanakan internship selama 1 tahun, kemudian mereka harus menunggu lagi STR mereka turun antara 2-3 bulan.


Jadi anda bisa bayangkan, berapa lama seorang dokter harus menunggu agar bisa praktik mandiri.
Birokrasi yang harusnya mempermudah malah mempersusah